Dari Waqi’ahan hingga Kitab Kuning: MATSAMA Hari Ketiga Al-Ghozali, Ketika Belajar dan Kebersamaan Berjalan Beriringan

Cirebon, 16 Agustus 2026 — Bagaimana jika masa pengenalan santri baru tidak hanya diisi dengan penyampaian materi, tetapi juga mengajak mereka merasakan langsung denyut kehidupan pesantren?

Pertanyaan itu barangkali menjadi gambaran sederhana dari rangkaian Masa Ta’aruf Santri Mahasiswa (MATSAMA) Pondok Pesantren Al-Ghozali 2026–2027. Memasuki hari ketiga, Minggu (16/8/2026), para santri baru kembali mengikuti rangkaian kegiatan yang memadukan nuansa religius, kebersamaan, permainan, hingga pengenalan tradisi keilmuan pesantren.

Hari ketiga diawali selepas Subuh dengan Waqi’ahan yang berlangsung hingga sekitar pukul 06.30. Kegiatan tersebut menjadi pembuka sebelum para santri melanjutkan aktivitas berikutnya dalam rangkaian MATSAMA.

Setelah suasana pagi yang sarat dengan kegiatan keagamaan, atmosfer kemudian berubah menjadi lebih semarak. Mulai pukul 08.00 hingga menjelang Dzuhur, para santri mengikuti berbagai lomba dalam rangka memeriahkan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Tiga perlombaan yang digelar pada hari itu adalah oper cup menggunakan balon, memasukkan paku, dan kursi panas.

Di balik keseruannya, perlombaan menjadi ruang sederhana bagi para santri baru untuk saling mengenal. Mereka belajar bekerja sama, berkomunikasi, memberikan dukungan kepada anggota kelompok, sekaligus menikmati suasana kebersamaan yang menjadi bagian dari kehidupan di pesantren.

Bagi sebagian orang, tarik tambang mungkin hanya sebuah permainan. Namun dalam kegiatan bersama, hal sederhana seperti itu dapat menjadi cara untuk mempertemukan orang-orang yang sebelumnya belum saling mengenal.

Dari Kebersamaan Kembali Menyelami Tradisi Keilmuan

Selepas rangkaian perlombaan, para santri mendapatkan waktu untuk istirahat, salat, dan makan (Ishoma) hingga sore hari. Setelah itu, kegiatan MATSAMA kembali berlanjut dengan agenda yang membawa para santri memasuki salah satu bagian penting dari tradisi keilmuan pesantren.

Pada pukul 20.00 hingga 21.30, para santri mengikuti materi Pegon Kitab Kuning yang disampaikan oleh Ustadz Asep.

Materi tersebut menjadi bagian dari pengenalan terhadap salah satu tradisi literasi yang lekat dengan dunia pesantren. Para santri baru diperkenalkan dengan Pegon dan kaitannya dalam proses pembelajaran kitab kuning.

Di sinilah MATSAMA Al-Ghozali menunjukkan sisi lainnya.

Pesantren bukan hanya tempat untuk tinggal dan belajar bersama. Di dalamnya terdapat tradisi keilmuan yang diwariskan, dipelajari, dan terus dihidupkan dari generasi ke generasi.

Hari ketiga pun ditutup dengan suasana belajar yang membawa para santri semakin dekat dengan salah satu khazanah intelektual pesantren: kitab kuning.

Satu Hari, Banyak Pengalaman

Jika dilihat sekilas, rangkaian hari ketiga MATSAMA mungkin tampak sederhana: Waqi’ahan, lomba, istirahat, lalu belajar Pegon Kitab Kuning.

Namun jika dilihat lebih dekat, setiap kegiatan membawa pengalaman yang berbeda.

Ada ruang untuk mendekatkan diri melalui kegiatan keagamaan. Ada ruang untuk membangun kebersamaan melalui permainan. Dan ada pula ruang untuk mengenal tradisi keilmuan yang menjadi bagian dari kehidupan pesantren.

Semua itu menjadi bagian dari proses para santri baru untuk mengenal lebih dekat Pondok Pesantren Al-Ghozali.

Sebab, mengenal pesantren tidak cukup hanya dengan mengetahui nama dan programnya. Ada suasana yang perlu dirasakan, ada tradisi yang perlu dipahami, dan ada proses yang perlu dijalani.

Dan mungkin, dari sinilah perjalanan itu dimulai.

MATSAMA Al-Ghozali 2026–2027 bukan sekadar pintu masuk menuju kehidupan pesantren, tetapi menjadi langkah pertama untuk mengenal dunia ilmu, adab, tradisi, dan kebersamaan yang akan menemani perjalanan para santri ke depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *